Dinilai Mengalami Stagnasi Akut, Kader GMNI Tulen Aceh Tengah Mendesak Segera Melaksanakan Konfercab
Dinilai Mengalami Stagnasi Akut, Kader GMNI Tulen Aceh Tengah Mendesak Segera Melaksanakan Konfercab
SigapNews.co id | TAKENGON - Sejumlah kader murni (tulen) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Aceh Tengah secara terbuka mendesak Dewan Pimpinan Cabang (DPC) GMNI Aceh Tengah untuk segera menyelenggarakan Konferensi Cabang (Konfercab).
Desakan ini muncul sebagai respons atas keprihatinan mendalam terhadap kondisi internal organisasi yang dinilai sedang mengalami stagnasi akut.
Pernyataan sikap tegas ini disampaikan langsung oleh empat kader tulen GMNI Aceh Tengah, yakni Ahyar Abadi, Angga, Rajuli, dan Irpan Pebrianda, pada Jumat (22/05/2026). Mereka menilai kepengurusan yang berjalan saat ini telah gagal menjalankan roda organisasi secara sehat dan demokratis.
Menyikapi urgensi pelaksanaan forum tertinggi di tingkat cabang tersebut, Ahyar Abadi menegaskan bahwa Konfercab bukanlah sebuah pilihan, melainkan amanah konstitusi organisasi yang wajib ditunaikan.
"Konfercab adalah forum sakral untuk mengevaluasi, memproyeksikan arah gerakan, dan melahirkan nakhoda baru. Menunda-nunda Konfercab tanpa alasan yang jelas sama saja dengan melanggar AD/ART organisasi dan mengebiri hak-hak konstitusional kader. Kami mendesak DPC untuk segera menetapkan tanggal pelaksanaan Konfercab tanpa ada alasan pembenaran lagi," tegas Ahyar Abadi.
Di sisi lain, Angga menyoroti kondisi kaderisasi yang menjadi jantung dari keberlanjutan organisasi perjuangan ini. Menurutnya, DPC saat ini terkesan abai terhadap proses pembinaan anggotanya.
"GMNI adalah organisasi kader, bukan sekadar papan nama. Saat ini kita melihat ada kemandekan yang luar biasa dalam proses kaderisasi formil maupun materil di Aceh Tengah. Tidak ada keterbukaan dalam pengelolaan basis massa, pencetakan kader ideologis terhenti, dan iklim intelektual organisasi redup. Ini rapor merah yang sangat mengkhawatirkan," ujar Angga secara kritis.
Kritik terhadap kemacetan sirkulasi kekuasaan di internal DPC juga disuarakan oleh Rajuli. Ia menyoroti pentingnya regenerasi kepemimpinan agar organisasi tetap relevan dan progresif.
"Regenerasi kepemimpinan adalah harga mati bagi sebuah organisasi mahasiswa. Jika estafet kepemimpinan dihambat dan tidak ada keterbukaan, maka yang terjadi adalah pembusukan dari dalam. GMNI Aceh Tengah butuh penyegaran struktur agar tidak terjebak dalam ego sektoral segelintir elite yang enggan melepaskan masa jabatannya," kata Rajuli.
Sementara itu, Irpan Pebrianda memberikan penekanan khusus pada hilangnya arah dan tujuan gerakan GMNI Aceh Tengah di bawah kepemimpinan saat ini. Ia menilai organisasi telah menjauh dari khittah perjuangannya.
"Mandeknya dinamika internal ini berimplikasi langsung pada hilangnya arah tujuan GMNI sebagai organisasi perjuangan berlandaskan Marhaenisme. GMNI Aceh Tengah hari ini kehilangan taji, absen dalam merespons isu-isu kerakyatan, dan tidak lagi menjadi penyambung lidah masyarakat di daerah. Konfercab harus menjadi momentum mengembalikan arah tujuan organisasi ke jalur yang benar," pungkas Irpan Pebrianda.
Keempat kader tulen tersebut menyatakan siap mengambil langkah-langkah konstitusional yang lebih tegas, termasuk berkoordinasi langsung dengan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) maupun Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GMNI, jika desakan untuk menyelenggarakan Konfercab ini terus diabaikan oleh para pengurus DPC GMNI Aceh Tengah saat ini. (IG)
Editor :Say Indra G
Source : GMNI