Trauma Mendalam Pasca Longsor Desa Kayu Kul, Dua keluarga kakak Beradik dan Anak-Anak Masih Dihantui
SigapNews.co id : Aceh Tengah - Bencana tanah longsor yang melanda Desa Kayu Kul, Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, pada Rabu, 26 November 2025, meninggalkan trauma mendalam bagi warga, khususnya dua keluarga kakak beradik beserta anak-anak mereka yang masih kecil dan rentan.
Peristiwa bermula setelah wilayah tersebut diguyur hujan ekstrem selama lima hari berturut-turut. Sekitar pukul 15.00 WIB, sebuah rumah di lereng perbukitan lenyap ditelan tanah longsor. Beruntung, pemilik rumah sedang tidak berada di rumah saat kejadian.
Hujan yang belum juga reda membuat warga panik. Mereka berhamburan keluar rumah menyaksikan kehancuran tersebut. Puluhan keluarga segera mengungsi ke tempat yang lebih aman karena meyakini longsor susulan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Tragedi puncak terjadi pada pukul 22.00 WIB. Suara gemuruh dari arah gunung terdengar semakin mengerikan. Dalam hitungan detik, tanah bercampur material bangunan meluncur deras, menghancurkan permukiman.
Sebanyak 12 unit rumah beton dan setengah permanen rata dengan tanah, satu rumah rusak parah, dan tiga rumah lainnya terdampak serius.
Di lokasi yang tak jauh dari longsoran, Ibu Asna menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Ia dilanda syok berat dan ketakutan mencekam. Dalam kepanikan, ia memanggil adik kandungnya, Nuriyah, yang saat itu masih berada di rumah bersama suami dan anak-anaknya, termasuk seorang bayi berusia 10 bulan, serta anak-anak lain yang masih usia PAUD, sekolah di MIN 1, dan kelas 1 MTsN di Takengon.
Melihat gundukan tanah yang kian mendekat, dua keluarga kakak beradik itu akhirnya melarikan diri. Mereka mengungsi hanya dengan pakaian tidur yang melekat di badan, basah kuyup diterpa hujan deras, dalam kondisi gelap dan penuh kepanikan.
Malam itu menjadi mimpi buruk bagi anak-anak. Bayi mereka terus menangis, sementara anak-anak lainnya terdiam, ketakutan, dan sulit diajak berkomunikasi. Hingga kini, anak-anak tersebut masih menunjukkan gejala trauma, seperti ketakutan setiap kali hujan turun, sulit tidur, sering terbangun malam, dan cemas berlebihan.
Keesokan harinya, kedua keluarga itu kembali ke lokasi untuk memastikan kondisi rumah mereka. Mereka bersyukur karena dua rumah tersebut tidak ikut tersapu longsor, meskipun berada sangat dekat dengan jalur bencana.
Meski selamat secara fisik, luka batin belum sepenuhnya pulih. Warga berharap adanya pendampingan psikologis dan trauma healing, khususnya bagi anak-anak korban bencana, agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan dan pendidikan dengan normal. (IG)
Editor :Say Indra G
Source : Masyarakat kayu kul