GMNI Aceh dan Petani Kopi Gayo Tolak Tambang di Aceh Tengah, Khawatir Ancam Lingkungan dan Masa Depa
GMNI Aceh dan Petani Kopi Gayo Tolak Tambang di Aceh Tengah, Khawatir Ancam Lingkungan dan Masa Depan Pertanian
SigapNews.co id | ACEH - Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Aceh, Satria Darmawan, bersama sejumlah kelompok petani kopi Gayo menyatakan sikap penolakan terhadap rencana maupun aktivitas pertambangan yang berpotensi berkembang di sejumlah wilayah Kabupaten Aceh Tengah.
Menurut Satria, kawasan yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi kopi Gayo memiliki karakter lingkungan yang sangat bergantung pada kelestarian hutan, ketersediaan sumber air bersih, serta keberlangsungan lahan pertanian yang menjadi penopang utama ekonomi masyarakat.
“Mayoritas masyarakat Aceh Tengah adalah petani kopi. Sumber penghidupan mereka bergantung pada kelestarian alam, hutan, dan air. Karena itu, kami menilai setiap aktivitas yang berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan harus dikaji secara hati-hati dan melibatkan masyarakat secara terbuka,” ujar Satria Darmawan, Rabu (17/06/2026).
Ia menegaskan, penolakan yang disampaikan bukan tanpa alasan. Menurutnya, berbagai kajian dan pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa aktivitas pertambangan memiliki potensi menimbulkan dampak lingkungan apabila tidak dikelola secara ketat sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Satria menyebutkan, masyarakat khawatir terhadap kemungkinan terjadinya kerusakan tutupan hutan, berkurangnya debit sumber air, degradasi lahan pertanian, serta dampak sosial yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar kawasan yang menjadi objek eksplorasi maupun eksploitasi tambang.
“Kami ingin memastikan bahwa sumber-sumber air yang selama ini menjadi kebutuhan masyarakat dan pertanian tetap terjaga. Air adalah kebutuhan pokok masyarakat, bukan hanya untuk hari ini tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” katanya.
Kelompok petani kopi Gayo yang turut menyuarakan aspirasi tersebut menilai keberlanjutan sektor pertanian harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan di Aceh Tengah. Selain menjadi sumber mata pencaharian ribuan keluarga, kopi Gayo juga telah menjadi identitas daerah yang dikenal hingga pasar internasional.
Mereka berharap pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, dapat mengedepankan prinsip kehati-hatian, transparansi, serta membuka ruang dialog yang melibatkan masyarakat sebelum mengambil keputusan terkait pengelolaan sumber daya alam.
GMNI Aceh dan perwakilan petani kopi juga mendorong agar seluruh proses perizinan dan kajian lingkungan dilakukan sesuai ketentuan hukum yang berlaku, dengan mempertimbangkan aspek ekologis, sosial, ekonomi, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat lokal.
Hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan resmi dari pihak perusahaan maupun instansi terkait mengenai tanggapan atas aspirasi penolakan yang disampaikan oleh GMNI Aceh dan kelompok petani kopi Gayo tersebut. Media ini membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi bagi seluruh pihak sesuai ketentuan Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999. (IG)
Editor :Say Indra G
Source : GMNI Aceh